Keteguhan Hati Menghadapi Kesulitan

Diambil dari :http://alqalam.8m.com

Menakjubkan  keberadaan  seorang mukmin,  kebaradaannya  semuanya positif, dan itu tidak dimiliki oleh siapapun selain  orang-orang yang beriman. Bila mendapatkan keberuntungan ia bersyukur, berarti  positif baginya, dan jika ia ditimpa kemalangan ia  bersabar, berarti positif baginya.” (HR. Musslim)

Kesulitan  atau  penderitaan hidup tampaknya  sudah  menjadi ‘sunatullah ‘ kehidupan ini. Tiada seorang pun di dunia ini  yang tak  pernah  dihinggapi  kesulitan  atau  penderitaan.   Mustahil seseorang  sunyi dari kesulitan itu. Yang berbeda adalah  derajat kesulitan   itu   dan   kesanggupan   pribadi   seseorang   dalam menghadapinya.

Rasulullah  saw pernah ditanya, “Siapakah yang paling  berat ujiannya?,”  Nabi  menjawab,”Para nabi, kemudian  yang  terbaik, lalu  yang  terbaik, seseorang mendapatkan  (bala)  ujian  sesuai dengan  kadar agamanya, bila agamanya kuat maka  bertambah  berat ujiannya,  dan  apabila agamanya dangkal, maka  Allah  mengujinya sesuai dengan kadar agamanya, seorang hamba tidak akan lepas dari ujian sampai ia berjalan di bumi dengan keadaan tidak berdosa.”

Fakta  telah menunjukkan bahwa manusia yang  paling  gampang shock, kaget, dan paling cepat goncang menghadapi  kesulitan-kesulitan  hidup adalah orang-orang yang tidak beriman kepada  Allah, orang-orang yang ragu dan lemah imannya.

Diantara manusia ada yang menyembah Allah dengn berada di tepi, maka bila  ditimpa kebaikan ia merasa tenang, dan jika ditimpa  fitnah ia  membalikkan wajahnya (murtad) ia merugi di dunia dan  akirat, itulah kerugian yang nyata“. (QS. Al Hajj: 11).

Demikian  itu  karena mereka tidak beriman  terhadap  takdir Allah  yang membuatnya rela, tidak mengimani Tuhan  yang  membuat tenang. Tidak pula beriman kepada para nabi sehingga dapat  mene mukan  keteladanan  pada  kehidupannya yang  serba  sulit,  tidak mempercayai  kehidupan akhirat yang menghembuskan udara  segarnya yang dapat melegakan nafas, mengusir kesedihan dan  membangkitkan harapan.

Orang  yang  mudah goyah dalam menghadapi cobaan  dan  ujian hidup  ibarat perahu retak dan patah layarnya dihantam  gelombang dan  angin, sehingga gerakan ombak atau angin kecil saja,  perahu itu  akan goncang hebat dan miring, apalagi dikepung oleh  gelombang  dari  perbagai penjuru tentu saja perahu  itu  akan  segera tenggelam kedalam lautan yang dalam.

Kita sering temukan kasus bunuh diri justeru di  lingkungan komunitas yang tidak peduli terhadap makna hidup beragama, dalam lingkungan  masyarakat  yang tidak  lagi  menegakkan  norma-norma agama akan lebih banyak lagi ditemukan kasus-kasus yang  mengerikan.  Suasana  akan menjadi kepedihan yang mematikan,  duka  cita yang mencemaskan dan kegelisahan yang mencekam dan kehidupan yang kehilangan makna. Sebab kesenangan yang ada hanyalah semu,  penuh kepura-puraan dan kemunafikan.

KETEGUHAN ORANG BERIMAN. Orang-orang    beriman   selalu   sabar   menghadapi bala (malapetaka), paling teguh hatinya dan tegar menghadapi kesulitan hidup  dan  lapang dada. Dan tabah  mengahadapi  musibah,  karena mereka   tahu  persis  pendeknya  umur  untuk  hidup   di dunia dibandingkan  keabadian  di akhirat.  Mereka  tidak  menginginkan surga sebelum surga yang sebenarnya.

Katakanlah  (wahai Muhammad) kesenangan dunia itu sebentar,  dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun“. (QS. Anisa’ 77).

Kehidupan  dunia  tidak lain hanyalah kesenangan  yang  menipu“. (QS. Ali ‘Imran: 185)

Orang  beriman  mengetahui  sunatullah  (hukum  alam)  bahwa manusia  itu akan diuji dengan nikmat kebebasan  berkehendak  dan menjadi  kholifah  di  bumi sehingga  mereka  tidak  menginginkan menjadi  malaikat.  Mereka tahu para nabi dan para  rasul  adalah manusia-manusia yang paling berat ujiannya dalam kehidupan dunia, paling  sedikit menikmati kehidupan dunia, sehingga mereka  tidak menginginkan  lebih  baik dari mereka  dan  dijadikannya  sebagai teladan yang baik.

Apakah kalian menyangka masuk surga, padahal kalian belum  merasakan  musibah  yang telah menimpa  orang-orang  sebelum  kalian, mereka telah ditimpa malapeteka dan kesengsaraan dan digoncangkan sampai rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya  menyatakan, “Kapan   pertolongan  Allah  tiba?”   Katakanlah,   “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat“.(QS. Al Baqarah 214)

NIKMAT DALAM SUKA MAUPUN DUKA. Musibah  yang menimpa dalam hidup ini bagi orang yang punya  iman bukanlah  pukulan  ngawur, akan tetapi sesuai dengan  takdir  dan qodho’  yang telah digariskan, hikmah azali, ketentuan  ilahi  sehingga  mereka yakin, bahwa apa yang akan ditimpakan  tidak  akan luput dan apa yang diluputkannya tidak akan menimpanya. “Musibah yang terjadi di bumi dan pada diri kalian adalah  diten tukan  sebelum  kami lepaskan, sesungguhnya hal  itu  mudah  bagi Allah“. (Qs. Al Hadid 22).

Allah  telah mentakdirkan dengan lembut dan  halus,  menguji dan  meringankan. “Sesungguhnya Allah maha halus lembut  terhadap sesuatu  yang  ia kehendaki, sesunggunya ia maha  mengetahui  dan bijaksana“. (QS. Yusuf 100).

Di antara kelembutan Tuhan ialah bahwa musibah dan kesulitan adalah  pelajaran  yang berharga dan pengalaman  yang  bermanfaat bagi  agama dan dunianya, mematangkan jiwanya,  mengasah  imannya dan menghilangkan karat hatinya. Perumpamaan seorang mu’min  yang ditimpa  malapeteka yang berat seperti besi yang  dimaksukan  api hingga hilang kotorannya dan tinggal yang baik.

Itulah nikmat-nikmat yang terdapat pada setiap musibah yang menimpa  manusia,  sehingga  seseorang  mungkin  perlu  bersyukur kepada  Allah disamping rela terhadap takdir dan  sabar  terhadap ujiannya.

Setiap  musibah dunia itu kadang-kadang diganti dengan  yang lebih  baik,  oleh karena itu sewaktu Yusuf  as  disuruh  memilih antara  dipenjara dan hina dengan wanita cantik yang  menarik  ia memilih  penjara.  “Wahai  Tuhanku  !  penjara  lebih  aku  sukai ketimbang  dari memenuhi ajakan mereka kepadaku”. Itulah  ratapan Yusuf pada Allah ketika menghadapi ujian berupa godaan wanita.

Di  antara ajaran nabi kepada umatnya adalah do’a “Ya  Allah janganlah  engkau  jadikan  musibah pada agama  kami  dan  jangan menjadikan  dunia sebagai cita-cita kami yang terbesar dan  akhir pengetahuan kami. (HR. Turmudzi).

Seorang  mukmin selalu melihat nikmat yang  telah  diberikan Allah sebelum ia melihat nikmat yang akan diterimanya. Ia melihat petaka  yang  akan terjadi (di akhirat) disamping  telah  melihat petaka yang telah menimpa. Sikap ini menimbulkan kelapangan  hati dan  keridhoan. Bala (peteka) yang terjadi telah ia hindari  dan kenikmatan yang telah diterima cukup banyak dan menetap.

Urwah  ibnu Zubair seorang ahli fiqh dari  kalangan  tabi’in adalah  teladan  yang baik bagi orang mukmin yang  sabar,  ridho, menghargai nikmat Allah.

Diriwayatkan  bahwa  kakinya sakit  kanker  dan  dokterpun memutuskan  untuk  diamputasi (dipotong) supaya  tidak  menjalar, lalu dokter memberinya obat bius supaya tidak terasa sakit. Namum ia  berkata “Aku tidak yakin seorang mukmin mau minum  obat  yang menghilangkan  kesabarannya  sehingga  tidak  mengenali  Tuhannya untuk itu potonglah kakiku”. Merekapun memotong kakinya dan iapun diam tidak mengeluh.

Takdir telah menghendaki untuk menguji hambanya sesuai kadar imannya, dimalam ia dipotong kakinya, seorang anak yang paling ia cintai jatuh dari lantai atas dan meninggal dunia. Orang-orangpun datang  kepadanya  dan  menghiburnya, iapun  berkata  “Ya  Allah, segala puji hanya untukmu, anak tujuh, dan kau ambil satu berarti masih  kau  sisakan enam. Sungguh bila engkau  mengambilnya,  ya memang  itu  adalah pemberianmu dan jika  engkau  menguji  dengan sakit/ engkau telah menyembuhkannya.

MANISNYA PAHALA DAN PAHITNYA KEPEDIHAN. Mengharap  pahala dari Allah atas musibah yang menimpanya  adalah kenikmatan  ruhaniah  lain  yang  dapat  meringankan  malapeteka. Pahala ini tercermin pada peleburan dosa-dosa betapun  banyaknya, dan  menambah  kebaikan yang sangat  dibutuhkannya.  Dalam  suatu hadist shahih disebutkan, “Kesusahan dan kegelisahan,  kepayahan, sakit sampai duri yang melukai yang menimpa seorang muslim  tidak lain kecuali Allah menghapus dosa-dosanya denganya.”

Salah  seorang  shaleh,  kakinya  terluka  namun  ia   tidak mengeluh  kesakitan, bahkan tersenyum dan membaca inna lilahi  wa inna  ilahi raji’un lalu ditanya, “Kenapa tuan tidak  mengeluh?” “Sesungguhnya manisnya pahala membuat aku lupa akan pahitnya rasa sakit,” jawabnya menatap.

Advertisements

One Response

  1. ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: